Tugas 2 Ilmu Budaya Dasar (IBD)

Friday, March 29th, 2013

KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTERAAN

1. Pendekatan Kesusasteraan

Kata “Sastra” berasal  merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa, misal Sastra Nusantara, Sastra Barat, Sastra Asia, dll.

Adapun yang termasuk dalam kategori karya sastra adalah:

a. Novel. Adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif; biasanya dalam bentuk cerita dengan panjang minimal 40.000 kata.

b. Cerita Pendek (Cerpen). Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel.

c. Syair. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga syair di desain sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi.

d. Pantun. Merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.

e. Sandiwara/Drama. Adalah sebuah pertunjukan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Jawa. Sebuah sandiwara bisa berdasarkan skenario atau tidak. Apabila tidak, maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi

f. Lukisan/Kaligrafi. Karya seni yang proses pembuatannya dilakukan dengan memulaskan berbagai warna, dengan kedalaman warna “pigmen” dalam pelarut (atau medium) dan gen pengikat (lem) untuk pengencer air, gen pegikat berupa minyak linen untuk cat minyak dengan pengencer terpenthin, pada permukaan (penyangga) seperti kertas, kanvas, atau dinding. Ini dilakukan oleh seorang pelukis; dengan kedalaman warna dan cita rasa pelukis, definisi ini digunakan terutama jika ia merupakan pencipta suatu karya lukisan.

sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

2. Budaya yang Dihubungkan Dengan Prosa

Terdapat banyak sekali jenis tulisan yang dikenal masyarakat Nusantara, salah satunya adalah Prosa. Prosa hampir sama dengan puisi, yang membedakan adalah jenis tulisan ini memiliki variasi ritme (rhythm) yang lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin “prosa” yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

Seiring dengan makin banyaknya budaya yang masuk ke Indonesia, terutama budaya barat, perkembangan jenis tulisan Prosa juga mengalami perubahan. Prosa yang dikenal saat ini ada 2 bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.

Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesia mulai ada. Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah :

a. Hikayat. Berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib.

b. Sejarah. Adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta

c. Kisah. Adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain.

d. Dongeng. Adalah suatu cerita yang bersifat khayal.

e. Cerita berbingkai. Adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya.

sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa

3. Nilai-nilai Dalam Prosa Fiksi

Beragam jenis karya sastra yang bisa kita temus dalam kehidupan sehari-hari, salah satu contohnya adalah Prosa Fiksi. Sangat baik bagi kita untuk senantiasa membacanya karena terdapat nilai-nilai didalamnya. Adapun nilai-nilai yang ada dalam Prosa Fiksi antara lain:

a.  Nilai Hedonik. Yaitu nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca, baik melalui plot cerita yang ditawarkan, peristiwa yang terjadi, maupun tokoh-tokoh yang ada didalamnya.

b. Nilai Artistik. Yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan. Hal ini juga menstimulasi imajinasi pembaca.

c. Nilai Kultural. Yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan.

d. Nilai Etis, Moral, Agama. Yaitu nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama.

e. Nilai Praktis. Yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

4. Budaya Dalam Puisi

Sebagai salah satu bentuk seni, puisi tentulah memiliki keindahan. Keindahan puisi terwujud melalui pemilihan kata (diksi), rima dan irama, penggunaan citraan, tipografi (wujud puisi), dan gaya bahasa. Dalam pemilihan kata, penyair mempertimbangkannya dari segi ketepatan makna dan kemampuan kata-kata itu dalam menghasilkan bunyi yang indah. Bunyi yang indah dapat terbentuk oleh adanya rima (persamaan bunyi) dan irama (alunan pengucapan).

Keindahan bunyi pada puisi bukan sekadar karena kemerduannya saat dibaca, melainkan juga karena mampu menghadirkan suasana yang sesuai dengan isi puisi. Dengan demikian, puisi akan hadir dengan kesan yang kuat. Itulah sebabnya, terdapat kaitan erat antara pemilihan kata, kemerduan bunyi, dan suasana yang ingin digambarkan.

Namun selain mengandung keindahan bahasa (berupa rima, irama, dan perlambangan), puisi juga mengandung nilai-nilai tertentu. Yang dimaksud nilai adalah konsep kebenaran atau ajaran yang dianggap penting bagi kehidupan. Ada berbagai nilai yang dapat diungkapkan penyair, misalnya nilai keagamaan, nilai budaya, nilai sosial, dan nilai moral. Nilai-nilai dalam puisi berkaitan erat dengan pesan atau amanat yang ingin disampaikan penyairnya. Dalam puisi Nusantara, umumnya berisi nilai-nilai budaya.  Tetapi perlu diingat, nilai dan pesan puisi hanya akan diperoleh jika pembaca mampu memahami isi puisi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: