Ilmu Sosial Dasar – Tugas 1

Friday, October 4th, 2013
* Tulisan ini ditujukan untuk melengkapi tugas softskill mata kuliah Ilmu Sosial Dasar tentang analisis permasalahan sosial *

Permasalahan pengemis di Kota Bandung

Di seluruh kota-kota besar di Indonesia bisa dengan mudah kita temui yang namanya pengemis, tidak terkecuali di kota Bandung. Hampir di setiap sudut jalanan kota Bandung banyak pengemis dan gelandangan yang berkeliaran, bahkan tidak jarang ada yang menggunakan fasilitas umum seperti jembatan, halte bus, dan sebagainya, sebagai tempat tidur mereka. Permasalahan pengemis dan gelandangan sudah lama mengakar di kota Bandung. Segala upaya sudah dilakukan pemerintah, namun tetap saja permasalahan tersebut tak kunjung usai. Dan parahnya lagi, baru-baru ini terjadi hal yang cukup menarik yang melibatkan para pengemis dan Wali Kota Bandung yang baru, Ridwan Kamil.

Mengutip dari sumber berita (Tribunnews.com), senin 30 september lalu terjadi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan gelandangan, pengemis, anak jalanan, dan pedagang asongan. Para pengunjuk rasa ini memprotes penertiban yang dilakukan Satpol PP berdasar kebijakan yang dikeluarkan Wali Kota.

“Kami butuh makan dan hidup. Carikan kami pekerjaan yang layak jika tidak boleh di jalanan,” teriak sejumlah pengunjuk rasa yang disambut teriakan pengunjuk rasa lainnya.

Saat unjuk rasa berlangsung, Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, tengah memimpin rapat pimpinan. Ia pun menghentikan rapat dan menemui para pengunjuk rasa. Menghadapi protes tersebut, Emil berusaha tenang dan memberikan solusi mengajak untuk bekerja yang lebih terhormat daripada pengemis. Ia berharap para pengemis, pengamen, dan anak jalanan beralih profesi, tidak lagi meminta-minta.

“Tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia. Saya punya anak kecil, saya sedih melihat anak- anak mengamen, harusnya belajar tapi karena kebutuhan ekonomi malah keluyuran di jalan,” ujar Emil.

Emil pun menawarkan solusi kepada para pengemis untuk bekerja menjadi penyapu jalan. “Kota Bandung butuh banyak petugas kebersihan. Saya menawarkan itu kepada Ibu-ibu. Karena saya ingin cara yang baru untuk menuntaskan masalah. Kita bisa dapat uang secara halal dengan cara- cara baik dan terhormat,” ujar Emil.

Emil juga menawarkan tempat tinggal di mes Persib yang memiliki kamar mandi dan tempat tidur yang layak daripada di emperan dan kolong jembatan.

Namun para pengemis dan gelandangan ini menangapi dingin solusi yang ditawarkan Emil. Sebagian pengemis menunjukkan ketidaksukaan atas rencana Emil dan sebagian mengeluh karena tidak mau menjadi tukang sapu.

“Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah Bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah Bapak bisa menggaji mereka Rp 4 sampai Rp 10 juta? Kalau hanya gaji 700 ribu, tidak akan cukup,” ujar Priston, salah seorang orator dari kelompok yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Jalanan.

Selama mendengarkan permintaan yang kurang logis dari pengunjuk rasa, Emil hanya geleng- geleng kepala. Emil akhirnya secara tegas meminta kepada pengemis untuk mau mengikuti ketentuan dari Pemkot Bandung. Jika tidak, penertiban akan terus dilakukan.

“Pekerjaan sudah disiapkan, tempat tinggal sudah ada, dan makan diberi. Jika tidak mau, ya suka tidak suka harus taat aturan yang ada. Jalanan harus bebas dari pengemis dan anak jalanan,” ujar Emil.

Berita diatas bisa menjadi gambaran arogansi beberapa kalangan pengemis. Pemerintah sudah mencoba memberikan solusi yang “seharusnya” menjadi win-win solution bagi pengemis maupun pemerintah itu sendiri. Para pengemis diberikan sebuah pekerjaan yang lebih layak, seperti yang mereka minta, dan bahkan pemerintah memberikan penginapan dengan fasilitas yang juga jauh lebih layak daripada tinggal di jalanan.

Namun para pengemis malah “ngelunjak” dengan mengajukan permintaan yang sangat tidak logis, mengingat kedudukan mereka dalam permasalahan ini, dengan meminta gaji Rp 4 sampai Rp 10 juta. Tidak hanya itu, dengan entengnya kelompok pengemis yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Jalanan mengatakan gaji Rp 700 ribu tidaklah cukup bagi mereka.

Kembali ke pernyataan para pengemis yang mengatakan “Kami butuh makan dan hidup.”, bukankah dengan solusi yang ditawarkan pemerintah kedua hal tersebut bisa dikatakan sudah tercapai? Pemerintah memberikan pekerjaan yang bisa menjadi sumber penghidupan mereka, pemerintah juga berencana memberikan tempat tinggal dan makan. Jika hal tersebut dirasa masih kurang oleh para pengemis, saya rasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan pemkot kecuali tetap terus bertindak tegas dengan melakukan penertiban pengemis seperti yang selama ini dilakukan untuk memberikan efek jera bagi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: